Sunday, December 9, 2012

REFORMULASI BEM


BAB I
 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sudah 3 tahun Organisasi HKM (Himpunan Keluarga Mahasiswa) poltekkes Jakarta III berubah nama menjadi BEMP (Baban Eksekutif Mahasiswa Pusat) poltekes kemenkes jakarta III. Dalam kurun waktu yang baru 3 tahun belum cukup mematangkan BEMP Poltekes jakarta III dalam melakukan pengorganisasian kemahasiswaan kampus yang ideal layaknya negara inidonesia, dengan menerapkan sistem pemerintahan demokratis yang an sich, perubahan-perubahan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan dari organ-organ yang mendukung berdirinya BEM, sebagai badaan legislatif mahasiswa. Oleh karena itu untuk membangun sistem organisasi kampus yang berazas demokrasi maka perlu adanya badan yudikatif, dan legislatif guna terjadinya chek and balance.
Berbicara mengenai negara, meski dalam hal ini adalah dalam bentuk miniaturnya memang cukup rumit, namun dibalik perkara ini justru dapat membuka wawasan serta memberi pencerdasan bagi kita semua selaku Agent of Change (perubahan) dan kaum terdidik dalam jumlah besar dikampus ini dan sabagai aset bangsa yang akan banyak berinteraksi terhadap sosial politik ditataran masyarakat majemuk dan luas, dalam  pasca kampus. Kampus adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk manggali dan menumbuhkan pengalaman yang applicable yang tidak hanya terbatas pada akademik tapi juga non akademik.
Keorganisasian mahasiswa perlu merintis model pemerintahan kampus yang fungsinya tidak membingungkan dalam penerapannya. Untuk itu perlu adanya organisasi yang mengacu pada sistem negara yang konstitusional. Yang akan lebih diperjelas alur pemerintahannya  dari ekskutif, legislatif, yudikatif dan lembaga kelengkapan lainnya. Disertai pula dengan kejelasan kerangka kenegaraannya dari bentuk negara (pemerintahan kampus), bentuk pemerintahan, sampai pada sistem pemerintahan yang akan dijalankan.
Apa yang terjadi sekarang dalam keorganisasian kampus poltekes kemenkes jakarta III adalah adanya kekosongan dalam badan legislatif, dan yudikatif sehingga tidak terjadinya pungsi kontor terhadap pihak legislatif yang di dapat mengakibatkan terjadinya “kesewenang-wenangan” dalam penyelenggara jalanya roda pemerintahan mahasiwa di Poltekkes Jakarta III. Maka dengan itu di perlukan  badan untuk mengimbangi pihak eksekutif guna terjadinya check and balance, dan demokratisasi kampus yang sesuai dengan azas –azas demokrasi.
Mahasiswa juga berperean aktip dalam pencapaian visi poltekes kemenkes jakarta III yaitu: menjadi istitusi perguruan tinggi kesehatan rujukan. Dengan demikian jelas bahwa saya kualitas mahasiswa pun mesti di tingkatkan baik di bidang akademisi maupun non akademis. keorganisasian kampus sangat berperan dalam peningkatn kualitas mahasiwa, terutama peningkatan kualitas di bidang non akademis.

Wednesday, October 31, 2012

MEMAKNAI KULIAH APA PEMBENTUKAN ROBOT?



Sangat manusiawi jika suatu individu menginginkan suatu yang terbaik untuk dirinya sendiri, tindakan yang sangat bijak jika seorang individu berkeinginan untuk mencapai kondisi yang lebih baik lagi. Maka dengan itu maka perlunya ada pembanding, apakah pembanding dengan yang sekelas ataukah pembanding dari pengalaman sebelumnya?
Berbicara dengan pembanding maka erat hubunganya dengan nilai setandar atau tolak ukur yang akan di jadikan acuan, misalnya tolak ukur pada siswa SMA, siswa SMA diyatakan lulus dari sekolah jika siswa tersebut bisa melewati UN dengan nilai minimal yang di tetapkan, misalnya minimal rata-rata nilai kelulusan adalah 7, dengan demikian siswa yang nilai UN–nya lebih dari 7 maka diyatakan lulus.
Penerapan setandar semestinya disesuaikan dengan tujuan pendidikan, jika tujuan setandarisasi untuk evaluasi proses. Bukanlah menjadi tujuan pencapayain pendidikan. Karena hasil dari pendidikan dilihat dari pasca pendidikan dan perubahan sipat dukan dari pengumbulan komulatip angka. Namaun apa yang terjadi jika komulatip-komulatip angka menjadi tujuan itu sendiri?

Monday, October 22, 2012

MAU DI BAWA KEMANA BEMP?



          Hidup adalah pilihan mungkin kata itu sudah tidak asing lagi kita dengar, karena hidup kita bak menunda kematian dengan berbagai pilihan yang ada, keadaan ini mengintegralkan perasaaanku dengan ungkapan, oleh seorang Filusuf Yunani dengan mengatakan  nasib paling beruntung adalah tidak dilahirkan, orang beruntung kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah dilahirkan dan mati tua,
Pilihan tidak haya dihadapkan kepada individu saja akan tetapi suatu kelompok juga sangat kerap sekali dihadapkan dengan pilihan-pilihan untuk mengeksiskan organisasi tersebut agar tetap hidup. Berbicara tentang pilihan yang dihadapkan kepada kelompok, kami akan singgung tentang eksistensi kelompok kami yang biasa kami sebut dengan BEMP. Mungkin pertanyaan pertama  menyoal pilihan tentang kelompok kami adalah: BEM atau OSIS? BEM EO (event organiser) atau BEM pergerakan,(bem yang sesungguhnya)?

Tuesday, June 12, 2012


IMPIANKU UNTUK DEMOKRASI DI NEGRIKU
1.      Pengertian Demokrasi
            Demokrasi secara bahasa terbagi dari dua Kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau kekuasaan ada tertinggi ada di tangan  rakyat. Dan yang lebih didikenal di kalangan akademisi yang meminjam konsep dari persiden Amerika Abraham Lincoln sebagai system pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
                Demokrasi sebagai mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara yang  dijalankan oleh wakil rakyat yang duduk di pemerintahan. Pilar dasar demokrasi adalah trias poltika yang dikemukakan oleh Montesquieu. Yang membagi tiga kekuasaan negara menjadi (eksekutif, yudikatip, dan legislatip) di mana hal ini dibentuk untuk mencegah kekuasaan yang absolute di suatu negara. Pada mulanya kasus ini muncul di perancis sebagai reaksi dari keadaan bangsa perancis pada masa itu, terhadap system pemerintahan yang dikusai oleh satu tangan sajah (raja), rakyat tidak mempuyai hak utuk bersuara mempengaruhi jalannya pemerintahan. Rakyat mesti nurut sajah kepada raja. Raja mengaku dirinya sebagai wakil tuhan di dunia ini. Dengan demikian munculah gagasan atas Montesquieu dengan trias politica sebagai bagian dari ketidakpuasanya terhadap pemerintahan.

Sunday, May 27, 2012


“KAMPUSKU MARJINALKU”
            Kaum marjinal merupakan kaum yang tepinggirkan baik terpinggirkan secara setruktural, maupaun secara sosial ekonomi. Keberadaan kaum marjinal di negri ini cukup untuk menambah kekayaan dan keaneka ragaman bangsa ini. Namun sebagian besar pandangan subjektif perorangan mengatakan orang marjinal adalah mereka yang terpinggirkan karena keadaan ekonomi (kemiskinan). Kaum-kaum miskin sering menjadai konotasi marjinal, walaupun ukuran miskin sangatlah normative. Tidak semua orang miskin akan terpinggirkan. Mungkin keberadaan kauk marjinal bukan karena sudah ada dari dulu (takdir) akan tetapi karena kita ikut memarjinalkan kaum-kaum marjinal tersebut. Haruslah kita mempuyai kepekaan terhadap mereka dan merasakan derita mereka!
            Apa yang telah saya ulas di atas selanyang pandang  phenomena kaum marjinal, yang kini saya rasakan sendiri kemarjinalan itu. Setelah saya lulus SMA saya kuliah di suatu perguruan tinggi negri di Jakarta. Kampus yang saya damba-dambakan untuk bisa meningkatkan kualitas hidup saya.  Institusi akademik idealnya memiliki tenaga edukasi yang “militant” dan lingkungan yang setrategis guna  menunjang efektifitas pembelajaran. Namun semua itu saya rasa belum seluruhnya dimiliki oleh kampus ini, kadang saya menggerutu dan meminta kesempurnaan yang selalu saya proyeksikan, namun akhirnya saya sadar bahwa itu tidakan seorang pengecut, sebagai mana di tuliskan oleh Doni Dhirgantoro dalam novelnya yang berjudul 2. (“ hanya pengecutlah yang mengharapkan hidup yang sempurna”) kurang lebih seperti itulah apa yang menjadi penyemangat saya kala itu. Terimakasis banyak mas Doni Dhirgantoro dan ditunggu film 5cmnya tayang.
            Setelah setahun saya berjuang melawan ketidak sempurnaan ini saya tetap merasa marjinal ketika saya bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa dari  kampus lain, kampus kami yang tidak banyak di kenal orang lah, kualitas diri yang masih jauh di bawah rata-rata mahasiswa pada umumnya,merupakan sebagian faktor penyebabnya  padahal kampus ini di nobatkan sebagai kampus terbaik se-Indonesia  bagi jurusan D3XXXXX.( ujar salah satu dosen pada waktu PPSM). Ironi kalangan mahasiswa luas tidak mengenalinya! Apa yang salah dengan semua ini, aku semakin menjadi marjinal dalam lingkup akademis. Saya yakin apa yang saya rasakan sekarang tidak jauh berbeda dengan apa yang teman-teman saya rasakan saat ini, merasa tepinggirkan dan terasing.
            Tidak ada asap kalau tidak ada api

Friday, May 25, 2012


OPSPEK” REKAYASA  PISIKOLOGI”
                Mahasiswa dilihat dari aspek sosio pisikologis adalah sosok manusia yang masih dalam tarap perkembangan dan pencarian bentuk. Secara psikis mahasiswa banyak bergelut dalam pencarian jatidirinya. Atas dasar inilah mahasiswa akan melakukan banyak hal, yang didasari berbagai latar belakang, ekonomi, pengetahuan dan corak pendidikan serta pengalaman hidup yang telah di jalaninya.
                Kontek pembentukan kepribadian memerlukan suatu  rekayasa pisikologis (psychological engeneering) untuk membentuk mahasiswa yang ideal. Pembentukan ini dapat diterapkan pada saat pertama kali mahasiswa baru (MABA) melakukan interaksi dalam lingkup kemahasiswaan. OPSPEK (Orientasi Program Studi dan Pengenalan kampus ) atau akronim sejenisnya merupakan titik awal untuk rekayasa pisikologi MABA di lingkungan kampus. Bila sebagai senior kita menggiginkan terbentuknya calon mahasiswa yang idealis, maka penanganan opspek sangatlah berpengaruh dalam menciptakan kader maba yang militant. Pelaksanaan opspek bukan haya sebatas seremonil belaka penyambutan mahasiswa baru. Di mana MABA mengalami  perubahan lingkungan, cara belajar, teman, dan ruang akademis dari yang berbeda, untuk itu perlu adaya gerbang pembentukan MABA yang “militant” sebelum memasuki perkuliahan yang sangat berbeda pada waktu di SMA. Opspek  lah yang dipadang epektif untuk menghandel permasalahan pada awal maba mengenal  serta beradaptasi dengan kampusnya sebagai dunia barunya
1.       Esensi Opspek 
Opspek sudah merupakan tradisi mahasiswa lama dalam meyambut keadatangan yuniornya,  muatan-muatan dalam opspek merupakan model-model yang diformat sebagai ajang sosialisasi dunia kampus dengan tradisi ilmiah yang diembanya kepada MABA  dengan berbagai bentuknya. Opspek juga menjadi prasyarat yang harus di lewati oleh mahasiswa baru sebelum mereka memasuki ruang perkuliahan. Opspek dinilai penting karena mengandung banyak esensial sebagai bekal awal melakukan hidup baru, pola pergaulan baru, pola pikir baru, dan sejumlah pola perubahan pisikologis lainya yang sangat berbeda dengan waktu di bangku sekolah dulu.

Monday, May 7, 2012


IRONISNYA KAMPUS INI
                Di suatu kota Metropolitan yang bergelimpanga segudang fasilitas dengan berbagai fungsi dan kegunaan, tak ayalnya instansi pendidikan yang berjejer di setiap jalan-jalan protocol dari yang berjas almet kuning sampai oren. Sungguh kota yang indah dengan bayak  pendunduduk sebagai kaum integensi sehingga menjadi dambaan bagi setiap orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di kota Metropolitan, dengan harapan harapan supaya sang anak menjadi  manusia yang unggul dan mampu bersaing di lingkungan globalisasi dunia.
                Begitulah mungkin kilasan sederhana kota  metropolitan dari pikiran gw yang baru berumur 20 thn, yang kini sedang menuntut ilmu di suatu perguruan tinggi di belakang rumah sakit. gwa sangat berbangga hati ketika keterima di kampus itu, gwa pun tak mau kalah dengan teman-teman SMA gwa yang memamerkan kampus barunya masing-masing. Jelas gwa bangga sekolah di kota paling besar di negri ini, tpi yang tak kalah bangganya ketika Kampus gwa ini mendapat akreditasi A, dan sebagai kampus terbaik se indonesia, ujar salah satu dosen yang ngomong tanpa ku tahu apakah penilaian si  dosen obektip ataukan subjektip, sungguh kampus dambaan para dosen yang “ krp” heheehhe sttttt.
                Seiring waktu berputar, pena-pena pensilku pun bergoret di kertas putih, lalu mensetimulus serpihan otak kosongku yang masih polos selayaknya anak sma, gwa  pun terus menuntut ilmu, dengan di sini lain merasa ada yang  tidak beres dengan akreditasi A yang di dapat  kampus dan ucapan si Dosen tadi tidak sesuai dengan apa yang gwa pikirkan dan saya rasakan. Kadang gwa merasa berdosa pada omonganku kepada teman-teman gw sewaktu SMA, hati kecilku berkecamuk apakah aku telah membohongi teman sendiri?